Berita  

Pilwana Paninggahan Berakhir, Pesan Persatuan Menguat: Biduk Lalu, Kiambang Batawik

RADJA MEDIA, SOLOK — Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, tidak hanya menjadi arena perebutan suara. Setelah tahapan pemilihan dilalui, persaingan antarkandidat dan tim pendukung mulai diarahkan menjadi momentum memperkuat persaudaraan serta membangun nagari secara bersama.

Dalam penetapan nomor urut calon, Mafril Ahmad tercatat sebagai calon Wali Nagari Paninggahan nomor urut 01. Sementara Jufrizal, A.Md. merupakan calon nomor urut 03. Proses kontestasi kemudian berkembang dengan munculnya pesan rekonsiliasi dari masing-masing kelompok pendukung.

H. David Level Nine dikenal sebagai salah satu tokoh yang memberikan dukungan kepada Mafril Ahmad. Sementara H. Beye Jaysky berada dalam barisan Tim Relawan dan Pemenangan 03 yang mendukung Jufrizal, A.Md.

Usai pemungutan suara, H. Beye Jaysky melalui timnya menyampaikan ucapan selamat kepada Mafril Ahmad berdasarkan perhitungan suara sementara. Sikap tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa kompetisi politik di tingkat nagari tidak semestinya memutus hubungan persaudaraan yang telah terbangun di tengah masyarakat.

Perlu ditegaskan, perolehan suara yang menjadi dasar ucapan tersebut masih merupakan perhitungan sementara. Hasil resmi tetap menunggu tahapan pleno dan penetapan sesuai mekanisme Pilwana.

Pesan persatuan kemudian semakin kuat dengan ajakan kepada seluruh tim pemenangan dan pendukung kandidat untuk mengakhiri perbedaan setelah kontestasi selesai.

Biduk lalu, kiambang batawik.”

Ungkapan tersebut menggambarkan semangat untuk kembali menyatu setelah melewati sebuah proses yang penuh perbedaan. Pilihan politik boleh berbeda, tetapi hubungan sebagai sesama masyarakat Paninggahan tetap harus dijaga.

Bagi pendukung kandidat yang memperoleh suara terbanyak dalam perhitungan sementara, kemenangan juga tidak dipandang sebagai akhir perjuangan. Jika nantinya telah ditetapkan secara resmi, kemenangan justru menjadi awal dari tanggung jawab untuk merangkul seluruh masyarakat.

Pemerintahan nagari ke depan tidak hanya akan berhadapan dengan pendukungnya sendiri, tetapi dengan seluruh masyarakat Paninggahan yang memiliki hak dan kepentingan yang sama dalam pembangunan.

Karena itu, semangat Paninggahan Emas diharapkan menjadi agenda bersama, bukan identitas satu kelompok politik.

Tokoh masyarakat, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, perantau dan seluruh masyarakat memiliki peran dalam memastikan proses demokrasi menghasilkan pemerintahan nagari yang mampu bekerja untuk kepentingan bersama.

Kedewasaan demokrasi juga tidak hanya diukur dari keberhasilan menyelenggarakan pemilihan secara aman dan tertib. Lebih jauh, demokrasi diuji ketika pihak-pihak yang sebelumnya berbeda pilihan mampu menerima hasil dan kembali bekerja sama.

Dalam konteks tersebut, sikap saling menghormati antartim menjadi modal penting bagi Paninggahan untuk memasuki fase pembangunan berikutnya.

Perbedaan selama masa kampanye merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun setelah masyarakat memberikan suaranya, kepentingan nagari harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

Siapa pun yang nantinya ditetapkan secara resmi sebagai Wali Nagari Paninggahan memiliki pekerjaan besar untuk menyatukan kembali seluruh elemen masyarakat.

Sebab membangun nagari tidak dapat dilakukan hanya oleh seorang wali nagari atau kelompok pendukungnya. Dibutuhkan kolaborasi seluruh unsur masyarakat dengan semangat gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan nagari.

Pilwana akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang mendapatkan suara terbanyak. Lebih dari itu, Pilwana merupakan proses memilih pemimpin yang dipercaya membawa seluruh masyarakat menuju masa depan yang lebih baik.

Beda pilihan tetap bersaudara. Kontestasi selesai, pembangunan dimulai.

Biduk lalu, kiambang batawik. Bersama menuju Paninggahan Emas. UMR

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *