RADJA MEDIA | SOLOK — Pawai alegoris memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung meriah di Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Senin (24/8/2026). Masyarakat memadati sepanjang rute untuk menyaksikan penampilan pelajar, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai unsur nagari.
Beragam kreasi bertema perjuangan, kebudayaan Minangkabau, pendidikan, pembangunan, dan kehidupan sosial masyarakat ditampilkan dalam pawai tersebut. Peserta mengenakan pakaian adat, kostum pejuang dan profesi, serta membawa berbagai atribut bernuansa kemerdekaan.
Berdasarkan data panitia, pawai melibatkan sedikitnya 43 kelompok peserta, terdiri atas empat PAUD/kelompok bermain, 10 taman kanak-kanak, 18 sekolah dasar, lima sekolah tingkat SLTP, satu sekolah tingkat SMA, dan lima organisasi kemasyarakatan. MIN 1 Solok turut mengambil bagian sebagai peserta dari luar Nagari Cupak.
Kehadiran peserta lintas usia membuat pawai berkembang menjadi pesta rakyat. Anak-anak usia dini tampil dengan kostum bernuansa kebangsaan, sementara pelajar tingkat dasar hingga menengah menghadirkan barisan, drumband, kesenian tradisional, serta fragmen perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Wali Nagari Cupak Fatmi Bahar Dt. Tuo mengapresiasi panitia, peserta, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, unsur adat, Bundo Kanduang, pemuda, dan masyarakat yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurut dia, pawai alegoris bukan sekadar hiburan tahunan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persatuan dan mewariskan sejarah perjuangan Cupak kepada generasi muda.
“Nagari Cupak memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, kemeriahan pawai ini harus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan diraih melalui pengorbanan para pejuang dan masyarakat,” kata Fatmi Bahar Dt. Tuo.
Ia mengatakan, generasi saat ini memiliki tanggung jawab mengisi kemerdekaan melalui kerja bersama, menjaga persatuan, dan melanjutkan pembangunan nagari.
“Tugas kita hari ini adalah mengisinya dengan menjaga persatuan, melestarikan adat dan budaya, meningkatkan pendidikan, serta bersama-sama membangun nagari,” ujarnya.
Pawai tersebut turut dihadiri anggota DPRD Kabupaten Solok Dedi Fajar Ramli dan Iwarnis, Kapolsek Gunung Talang, Kasi Kesejahteraan Kecamatan Gunung Talang, Ketua Kerapatan Adat Nagari, Ketua Badan Permusyawaratan Nagari, Ketua Bundo Kanduang, serta unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat.
Sejumlah tokoh, di antaranya Dasril, S.Ag. dan Patrischan, S.H., juga mengikuti rangkaian kegiatan bersama masyarakat.
Pawai alegoris telah menjadi tradisi yang dinantikan masyarakat Cupak setiap peringatan kemerdekaan. Kegiatan itu tidak hanya menjadi ruang hiburan dan kreativitas, tetapi juga berkaitan erat dengan sejarah panjang nagari tersebut pada masa revolusi fisik.
Catatan sejarah Pemerintah Nagari Cupak menyebut wilayah itu menjadi salah satu pusat perjuangan rakyat ketika Belanda kembali melancarkan operasi militer pada periode 1945–1949.
Pada 5 Januari 1949, pasukan Belanda mulai melakukan penyisiran di Cupak. Operasi berlangsung berulang hingga November 1949, disertai pembakaran permukiman, perusakan, penembakan, dan pembunuhan terhadap masyarakat.
Sejumlah kawasan, mulai dari Balai Gadang, Panyalai, Balerong hingga Balai Tangah, tercatat mengalami pembakaran. Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat.
Tiga pejuang Cupak, yakni Muhammad Sayid, Baharudin Ramus, dan Data R. Mangkuto, gugur dalam perjuangan. Ketiganya dimakamkan di Balai Batu Aceh, Jorong Balai Pandan, karena kawasan itu ketika itu dinilai relatif aman dari gangguan pasukan musuh.
Lokasi pemakaman tersebut kemudian dikenal sebagai Taman Makam Pahlawan Nagari Cupak dan menjadi salah satu penanda penting perjalanan sejarah masyarakat setempat.
Ingatan terhadap perjuangan itu semakin diperkuat melalui pembangunan Monumen Perjuangan Masyarakat Cupak pada 2002, ketika Gamawan Fauzi menjabat Bupati Solok. Monumen tersebut menampilkan tiga figur pejuang dengan latar berbeda sebagai simbol keterlibatan tentara dan masyarakat sipil dalam mempertahankan kemerdekaan.
Cupak menjadi salah satu titik utama perlawanan, tetapi perjuangan pada masa itu juga didukung masyarakat dari sejumlah daerah sekitar, seperti Guguak, Talang, Pasar Usang, Koto Baru, dan wilayah lainnya.
Keberadaan Taman Makam Pahlawan Balai Batu Aceh dan Monumen Perjuangan memberikan makna historis terhadap setiap peringatan kemerdekaan di Cupak. Pawai alegoris tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi cara masyarakat merawat ingatan kolektif dan mengenalkan pengorbanan generasi terdahulu kepada anak-anak nagari.
Antusiasme masyarakat pada pawai tahun ini menunjukkan tradisi tersebut tetap terpelihara di tengah perubahan zaman. Kemerdekaan dirayakan melalui kreativitas dan kegembiraan, sekaligus penghormatan terhadap para pejuang yang telah mempertahankan nagari dan Republik Indonesia. UMS














