RADJA MEDIA | PADANG — Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang, Hendra Pebrizal, menjelaskan penyebab meningkatnya kekeruhan air yang dikeluhkan sebagian pelanggan. Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya kekeruhan air baku serta sejumlah infrastruktur utama yang belum sepenuhnya pulih pascabencana.
Penjelasan itu disampaikan Hendra menanggapi aspirasi Garda Muda Merah Putih (GMMP) Sumatera Barat yang menggelar unjuk rasa di Kantor Perumda Air Minum Kota Padang, Jalan H. Agus Salim Nomor 10, Sawahan, Padang Timur, Senin (24/8/2026).
Dalam orasinya, massa menyoroti kualitas air yang diterima pelanggan serta mempertanyakan pengelolaan dan pengendalian sampah. Massa ditemui Sekretaris Perusahaan Perumda Air Minum Kota Padang, Richi Gautama. Aspirasi pengunjuk rasa diterima untuk diteruskan kepada jajaran direksi.
Hendra mengakui pelayanan dan kualitas air masih menghadapi kendala. Namun, menurut dia, kondisi tersebut bukan faktor yang disengaja, melainkan akibat faktor alam dan kegiatan eksternal yang turut memengaruhi sumber air baku serta infrastruktur perusahaan.
“Memang ada beberapa kendala dalam pelayanan dan kualitas produk. Namun, kondisi itu bukan sesuatu yang disengaja. Ada faktor alam dan kegiatan eksternal yang ikut berdampak terhadap infrastruktur serta pelayanan Perumda Air Minum Kota Padang,” kata Hendra.
Banjir dan longsor sejak akhir 2025 menyebabkan sejumlah intake tertimbun sedimen, pipa transmisi hanyut, pompa terendam, serta kerusakan pada jembatan pipa Gunung Nago yang menjadi salah satu jalur utama pasokan air.
Sejumlah komponen accelerator di Instalasi Pengolahan Air Gunung Pangilun juga mengalami kerusakan pascabencana sehingga memerlukan perbaikan menyeluruh. Unit tersebut berperan penting dalam proses koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi untuk memisahkan lumpur serta material lainnya dari air baku.
Perumda juga melakukan pemasangan pipa transmisi jalur kedua dari Intake Palukahan untuk memperkuat pelayanan wilayah utara. Pemulihan dan optimalisasi turut dilakukan pada Intake Kampung Koto dan Intake Lubuk Peraku.
“Intake dan beberapa infrastruktur lain yang terdampak masih dalam proses pemulihan dan optimalisasi. Termasuk Intake Lubuk Peraku, yang saat ini juga sedang kita optimalkan agar dapat menunjang peningkatan pelayanan,” ujar Hendra.
Menurut dia, curah hujan yang kembali meningkat dan kondisi cuaca tidak menentu ikut meningkatkan kekeruhan air baku. Lumpur, pasir, dan berbagai material dari daerah tangkapan air terbawa ke sungai yang menjadi sumber produksi Perumda.
“Ketika curah hujan tinggi, tingkat kekeruhan air baku meningkat secara signifikan. Pada sebagian lokasi, air bercampur lumpur. Bahkan, dalam kondisi tertentu, material lumpurnya lebih dominan dibandingkan air. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap proses pengolahan dan kualitas air,” katanya.
Kombinasi antara air baku yang sangat keruh dan infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih meningkatkan beban instalasi pengolahan. Perusahaan harus menyesuaikan kapasitas produksi dan mengolah air secara lebih hati-hati agar kualitas air yang dialirkan kepada pelanggan tetap terjaga.
“Petugas kami tetap bekerja maksimal. Dalam kondisi seperti ini, perhatian utama kami adalah bagaimana kualitas produk tetap terjaga dan pelayanan kepada pelanggan terus berjalan,” tegasnya.
Pemulihan infrastruktur pascabencana mendapat dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dengan nilai sekitar Rp82 miliar. Perumda Air Minum Kota Padang bertindak sebagai pendamping dalam pemetaan kebutuhan, sedangkan pekerjaan dilaksanakan melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera V.
“Perumda hanya bertindak sebagai pendamping dalam pemetaan kegiatan. Pekerjaan dilaksanakan Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera V. Dukungan ini diarahkan untuk pemulihan infrastruktur serta peningkatan kualitas pelayanan dan produk pascabencana,” kata Hendra.
Mengenai pengelolaan dan pengendalian sampah, Hendra menegaskan keterlibatan Perumda hanya dalam membantu pemungutan iuran berdasarkan penugasan Pemerintah Kota Padang.
Operator teknis pengangkutan, pengelolaan, dan pengendalian sampah berada di Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang. Hasil pungutan melalui tagihan pelanggan, menurut Hendra, langsung disetorkan ke rekening DLH.
“Perumda Air Minum hanya membantu pemungutan iuran sampah sebagaimana mandat Pemerintah Kota Padang. Operator teknisnya berada di Dinas Lingkungan Hidup dan hasil pungutannya langsung disetorkan ke rekening DLH Kota Padang,” jelasnya.
Hendra berharap masyarakat dapat bersabar selama proses pemulihan dan optimalisasi berlangsung. Seluruh tim teknis masih bekerja untuk memastikan infrastruktur yang terdampak kembali berfungsi dan kualitas pelayanan terus meningkat.
“Kami memahami keluhan masyarakat. Seluruh tim masih bekerja maksimal agar infrastruktur pascabencana kembali berfungsi optimal, kualitas air semakin baik, dan pelayanan kepada pelanggan terus meningkat,” tutup Hendra. UMS














