Berita  

Festival Budaya Paninggahan, Wabup Candra Ajak Perantau dan Generasi Muda Jaga Warisan Nagari

RADJA MEDIA, SOLOK – Pelestarian adat dan budaya membutuhkan kebersamaan seluruh elemen masyarakat. Semangat itulah yang mewarnai Festival Seni Budaya Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, yang berlangsung pada 30–31 Oktober 2026.

Kehadiran Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.H.I., dalam kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah bersama masyarakat dalam menjaga kekayaan budaya lokal. Ia berharap festival ini tidak sekadar menjadi kegiatan sesaat, melainkan dapat dikembangkan menjadi agenda tahunan Nagari Paninggahan.

Menurut Candra, keberadaan kegiatan seni dan budaya memiliki peran penting dalam pembangunan masyarakat. Kemajuan suatu daerah tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan identitas, adat istiadat, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Festival budaya, katanya, harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenali kembali akar tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi penerus.

Rombongan Wakil Bupati turut didampingi Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Solok, Ny. Lian Oktavia Candra, dan Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Solok, Nazar Bakri, bersama rombongan.

Kedatangan mereka disambut Camat Junjung Sirih, Penjabat Wali Nagari Paninggahan, wali nagari terpilih, unsur Badan Permusyawaratan Nagari (BPN), tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta mahasiswa dan mahasiswi asal Paninggahan.

Nuansa kebudayaan terasa sejak prosesi penyambutan. Tarian khas nagari dan atraksi Silat Harimau Gagoan menjadi persembahan generasi muda penggiat seni budaya Paninggahan.

Pertunjukan tersebut bukan sekadar suguhan bagi tamu yang hadir. Lebih dari itu, penampilan anak nagari tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lokal masih memiliki ruang untuk tumbuh dan diwariskan.

Hal menarik dari penyelenggaraan festival ini adalah keterlibatan masyarakat perantauan. Partisipasi perantau Nagari Paninggahan memperlihatkan bahwa hubungan antara kampung halaman dan warga yang berada di luar daerah tetap menjadi kekuatan dalam menjaga keberlangsungan tradisi.

Bagi masyarakat Minangkabau, rantau dan kampung halaman memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Perantau bukan sekadar bagian dari sejarah perjalanan ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki ikatan sosial dan tanggung jawab moral terhadap nagari asal.

Keterlibatan tersebut menjadi modal sosial yang perlu terus dipelihara. Pemerintah nagari dan masyarakat diharapkan dapat membangun komunikasi serta pola kolaborasi yang berkelanjutan dengan para perantau, sehingga dukungan terhadap kegiatan kebudayaan tidak hanya hadir pada saat festival berlangsung.

Dengan sinergi tersebut, kegiatan seni budaya berpeluang berkembang menjadi wadah silaturahmi lintas generasi dan lintas daerah, sekaligus memperkuat promosi potensi Nagari Paninggahan.

Dalam pesannya, Wakil Bupati juga mengingatkan pentingnya menjaga filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Menurutnya, adat dan agama harus menjadi landasan dalam membangun kehidupan masyarakat. Pelestarian budaya tidak boleh dipisahkan dari pembentukan karakter dan penguatan nilai keagamaan.

Ia mencontohkan Silat Harimau Gagoan yang tidak hanya mengandung unsur bela diri, tetapi juga mengajarkan kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama.

Karena itu, generasi muda perlu diberikan ruang lebih luas untuk terlibat dalam kegiatan seni, budaya, pendidikan adat, dan aktivitas keagamaan.

Candra juga menekankan bahwa pembangunan nagari membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Pemerintah daerah, pemerintah nagari, lembaga adat, tokoh agama, pemuda, mahasiswa, dan perantau harus berjalan dalam semangat kebersamaan.

Festival budaya juga dapat diarahkan menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif dan promosi potensi lokal. Kesenian tradisional, kuliner, sejarah, serta kearifan masyarakat dapat dikemas menjadi daya tarik yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nagari.

Dorongan menjadikan Festival Seni Budaya Nagari Paninggahan sebagai agenda tahunan menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan perencanaan, dukungan masyarakat, dan kesinambungan penyelenggaraan.

Sebab, menjaga budaya tidak cukup dengan menampilkan kesenian dalam sebuah panggung. Yang lebih penting adalah memastikan tradisi tersebut tetap hidup, dipelajari, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. UMS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *