PADANG, RADJA MEDIA — Wakil Bupati Solok H. Candra, S.H.I. menghadiri launching perdana film Urang Bunian di bioskop XXI Basko Mall Padang, Minggu (13/9/2026).
Kehadiran H. Candra tidak hanya menjadi bagian dari momentum perfilman tersebut. Sebelum pemutaran, ia menyempatkan diri bertemu dan berbincang dengan Dr. Anton Permana, S.IP., M.H., Datuak Hitam, Pinto Janir, sejumlah aktor pemeran Urang Bunian, serta Udario, kreator asal Kabupaten Solok yang turut terlibat dalam film tersebut.
Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab. Sejumlah pembicaraan kemudian berkembang pada persoalan budaya Minangkabau, nilai keislaman, kebangsaan hingga peluang pengembangan industri kreatif sebagai bagian dari masa depan daerah.
Bagi H. Candra, Urang Bunian memiliki arti tersendiri karena mengangkat cerita yang sudah lama dikenal masyarakat Minangkabau dan diwariskan lintas generasi.
“Urang Bunian bukan hanya cerita mistis. Di dalamnya ada pesan moral dan pesan agama. Yang lebih penting, ini merupakan bagian dari cerita yang sudah hidup di tengah masyarakat Minang dari generasi ke generasi,” ujar H. Candra.
Menurutnya, keberanian mengangkat cerita lokal ke layar lebar merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.
Sebab, perkembangan zaman membuat pola pewarisan budaya ikut berubah. Cerita yang dahulu disampaikan melalui tutur, kini dapat diperkenalkan melalui film, media digital dan berbagai industri kreatif.
H. Candra menilai Minangkabau memiliki modal budaya yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan industri kreatif.
Tidak hanya cerita Urang Bunian, tetapi juga sejarah, adat, tokoh, legenda, alam dan kehidupan sosial masyarakat Minang dapat menjadi sumber inspirasi bagi sineas dan generasi muda.
“Kita punya begitu banyak cerita. Jangan sampai kekayaan itu hanya menjadi cerita masa lalu. Budayawan, seniman dan anak muda Minang harus berani membawa cerita tersebut ke ruang yang lebih luas, termasuk dunia perfilman,” katanya.
Menurutnya, kebangkitan budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi. Kebudayaan juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Dalam konteks itu, industri film dapat menjadi salah satu medium strategis untuk memperkenalkan Minangkabau kepada masyarakat Indonesia bahkan dunia.
Ada hal menarik yang menjadi perhatian H. Candra dalam perjalanan representasi tokoh Minangkabau melalui karya sastra dan film.
Selama ini, masyarakat Indonesia mengenal sosok Datuk Maringgih melalui kisah Sitti Nurbaya. Tokoh tersebut melekat dengan citra konflik, kekuasaan dan persoalan perkawinan paksa.
Kini, melalui Urang Bunian, muncul sosok Datuak Hitam dengan karakter yang berbeda.
“Dulu Minang dikenal dengan Datuk Maringgih. Sekarang Minang bisa dikenal melalui Datuak lain dengan persepsi yang berbeda. Datuak Hitam lebih dikenal dengan keteguhan iman dan nilai Islam. Ini memberikan warna lain terhadap bagaimana Minangkabau diperkenalkan kepada masyarakat luas,” ungkap H. Candra.
Menurutnya, karakter Datuak Hitam menarik karena memperlihatkan keterhubungan antara adat dan nilai keislaman yang menjadi bagian penting dalam identitas masyarakat Minangkabau.
Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah juga dapat menjadi sumber nilai dalam karya kebudayaan.
“Film adalah media yang sangat kuat. Kalau nilai adat dan agama dapat disampaikan melalui cerita yang menarik, generasi muda akan lebih mudah mengenal dan memahami akar budayanya,” ujarnya.
Keterlibatan Udario, kreator asal Kabupaten Solok, juga menjadi perhatian khusus Wakil Bupati.
Menurut H. Candra, keterlibatan talenta daerah dalam film yang diproduksi untuk pasar nasional membuktikan bahwa anak-anak daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dalam industri kreatif.
“Saya tentu bangga ada kreator asal Kabupaten Solok yang ikut terlibat. Ini menunjukkan bahwa anak-anak kita memiliki potensi. Pemerintah dan masyarakat harus memberikan ruang agar talenta-talenta seperti ini terus berkembang,” katanya.
H. Candra melihat potensi tersebut sejalan dengan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia.
Pembangunan Kabupaten Solok, menurutnya, tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga harus memberikan ruang bagi kreativitas generasi muda.
Industri kreatif dapat menjadi salah satu sektor yang dikembangkan karena mampu menghubungkan budaya, teknologi, ekonomi dan lapangan kerja.
Setelah menyaksikan film tersebut, H. Candra menilai Urang Bunian memiliki kekuatan pada pesan yang dibawa kepada penonton.
Selain unsur hiburan dan cerita mistis, terdapat pesan moral serta nilai agama yang dapat menjadi bahan renungan.
Hal tersebut dinilai penting karena film mempunyai kemampuan menjangkau masyarakat dalam jumlah besar dan lintas generasi.
“Kita ingin budaya Minang tetap hidup. Bukan hanya hidup dalam cerita orang tua, tetapi juga hadir di layar, di ruang digital dan di industri kreatif. Dengan begitu anak-anak muda kita tidak hanya mengetahui budayanya, tetapi juga bangga menjadi bagian dari budaya tersebut,” tuturnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari penuhnya bangku bioskop saat film tersebut diputar.
Bagi H. Candra, respons tersebut menjadi sinyal bahwa cerita lokal masih mempunyai tempat yang kuat di hati masyarakat ketika dikemas secara baik dan relevan dengan perkembangan zaman.
Ia berharap Urang Bunian menjadi salah satu pintu bagi lahirnya lebih banyak karya perfilman yang mengangkat kekayaan Minangkabau.
“Jangan hanya menjadi penonton. Kita harus mulai menjadi pencipta cerita tentang diri kita sendiri—tentang adat, agama, sejarah, alam dan kehidupan masyarakat Minangkabau,” tegasnya.
Launching Urang Bunian akhirnya tidak sekadar menjadi agenda perfilman. Momentum tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya, Islam, kreativitas generasi muda dan pembangunan daerah dapat bertemu dalam satu ruang.
Bagi Kabupaten Solok, keterlibatan kreator lokal dalam karya nasional menjadi dorongan agar potensi sumber daya manusia terus dikembangkan.
Sementara bagi Minangkabau, layar lebar membuka ruang baru untuk memperkenalkan identitas budaya dengan perspektif yang lebih beragam.
Dari Datuk Maringgih ke Datuak Hitam, dari cerita tutur ke layar lebar—Minangkabau terus mencari cara baru untuk menceritakan dirinya kepada Indonesia. UMR














