JAKARTA — Polemik hubungan bisnis pengelolaan DH Medika memasuki babak baru setelah dr. Ester Wulandari Fahmi dan Nicky Amalia Sanandri menyampaikan keberatan terhadap pemberitaan yang mengaitkan keduanya dengan dugaan penipuan dan persoalan pengelolaan dan
Keberatan tersebut terutama menyangkut proses pemberitaan. Ester dan Nicky menilai pemberitaan mengenai sengketa bisnis itu telah dipublikasikan sebelum mereka memperoleh kesempatan memberikan klarifikasi.
Dalam kronologi yang mereka susun tertanggal 7 Oktober 2026, keduanya menyatakan pemberitaan yang dimuat Media Rakyat/ForumKota.id pada 6 Oktober 2026 dinilai sangat merugikan secara material maupun immaterial.
Mereka juga menyebut pemberitaan tersebut berpotensi membawa persoalan hubungan bisnis ke ranah reputasi pribadi, termasuk nama baik dan profesi yang selama ini mereka jalankan.
Menurut Ester dan Nicky, persoalan yang terjadi pada dasarnya berawal dari hubungan kerja sama pengelolaan layanan kesehatan di kawasan Jalan Curug Luhur, Bogor.
Pertemuan awal disebut berlangsung pada April 2026. Dalam proses tersebut, mereka mengaku telah menyiapkan rancangan kerja sama serta RAB awal. Namun, menurut versi mereka, rancangan kerja sama tersebut kemudian diminta untuk direvisi oleh DH.
Dalam kronologi itu disebutkan pula bahwa DH menyatakan dirinya sebagai investor 100 persen dan menjanjikan adanya perjanjian kerja sama secara notariil serta pembentukan badan usaha.
Seiring persiapan operasional, sejumlah dana disebut masuk dan digunakan untuk kebutuhan ruko, renovasi serta pengadaan barang dan kebutuhan operasional DH Medika.
Pada 9 Mei 2026, Ester dan Nicky menyebut telah mengirimkan revisi RAB senilai Rp101,88 juta melalui WhatsApp dan menyatakan RAB tersebut telah disetujui DH sebagai investor.
Selanjutnya, pada 13 Mei 2026, mereka menyebut menerima dana Rp66,88 juta yang digunakan untuk pengadaan kebutuhan operasional DH Medika. Bukti pengeluaran, menurut mereka, disimpan dalam administrasi kegiatan.
DH Medika kemudian menggelar grand opening pada 21 Mei 2026. Dalam kronologi tersebut disebutkan sekitar 50 orang hadir dan DH disebut turut menghadiri kegiatan tersebut.
Namun, Ester dan Nicky mengakui bahwa pada saat operasional berjalan, perjanjian kerja sama yang sejak awal mereka harapkan belum terealisasi.
Keduanya menyebut kegiatan tetap berjalan sekitar satu bulan. Ketika tidak ada lagi pendanaan yang masuk, biaya operasional dan pembayaran gaji disebut kemudian menggunakan pendapatan DH Medika.
Persoalan kemudian berkembang ketika laporan aktivitas dan keuangan dibuat pada Juni 2026. Menurut Ester dan Nicky, laporan tersebut disampaikan kepada pihak terkait, termasuk melalui hard copy kepada asisten DH.
Mereka menyebut laporan tersebut tidak diterima oleh DH karena, menurut pemahaman mereka, terdapat kekhawatiran terhadap potensi kerugian.
Ester dan Nicky juga mempersoalkan tidak adanya dasar kerja sama secara tertulis yang menurut mereka seharusnya menjadi pijakan dalam menentukan hak, kewajiban dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Mereka menyatakan sejak awal telah mengusulkan legalitas kerja sama agar posisi seluruh pihak menjadi jelas. Namun, hingga kegiatan berjalan, perjanjian tersebut disebut belum terealisasi. Kondisi itu kemudian dinilai merugikan dan membuat mereka merasa keahlian serta profesinya tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya.
Persoalkan Pemberitaan Sebelum Klarifikasi
Bagi Ester dan Nicky, persoalan tidak berhenti pada substansi hubungan bisnis.
Mereka mempertanyakan langkah membawa persoalan tersebut ke ruang publik melalui pemberitaan sebelum adanya kesempatan bagi mereka untuk memberikan penjelasan.
Mereka menilai, apabila terdapat persoalan dalam pelaksanaan suatu hubungan kerja sama, semestinya tersedia ruang komunikasi dan penyelesaian terlebih dahulu antarpihak, termasuk teguran atau mekanisme hukum yang sesuai dengan hubungan kerja sama yang berlangsung.
Keduanya merasa pemberitaan yang muncul lebih dahulu sebelum proses klarifikasi telah menempatkan mereka pada posisi yang merugikan.
Terlebih, tuduhan yang diberitakan menyangkut dugaan penipuan dan pengelolaan pekerjaan maupun barang yang disebut tidak sesuai. Bagi Ester dan Nicky, tuduhan semacam itu bukan sekadar persoalan bisnis karena menyentuh langsung nama baik dan profesi mereka.
Mereka kemudian menilai kondisi tersebut sebagai bentuk serangan terhadap reputasi profesional mereka, meski secara hukum penilaian mengenai ada atau tidaknya pencemaran nama baik tetap harus didasarkan pada fakta, bukti dan proses hukum.
Siapkan Langkah Hukum
Dalam kronologi yang disampaikan, Ester dan Nicky menyatakan keberatan terhadap pemberitaan tersebut dan membuka kemungkinan menempuh langkah hukum.
Mereka juga menyatakan memiliki sejumlah dokumen pendukung, antara lain percakapan WhatsApp, surat, foto serta dokumen lain yang menurut mereka berkaitan dengan proses kerja sama dan operasional DH Medika.
Di sisi lain, tudingan terhadap Ester dan Nicky sebagaimana diberitakan sebelumnya tetap merupakan versi dari pihak DH dan belum dapat diposisikan sebagai fakta hukum yang telah terbukti.
Karena itu, substansi perkara masih membutuhkan pembuktian mengenai aliran dana, penggunaan anggaran, keberadaan barang dan pekerjaan yang dipersoalkan, laporan keuangan, serta kesepakatan para pihak mengenai bentuk hubungan kerja sama.
Sementara itu, keberatan Ester dan Nicky mengenai pemberitaan sebelum klarifikasi menjadi persoalan tersendiri. Mereka meminta agar posisi mereka juga diberikan ruang dalam pemberitaan sehingga publik dapat melihat perkara tersebut dari kedua sisi.
Dengan demikian, polemik DH Medika kini tidak hanya berkaitan dengan persoalan pertanggungjawaban bisnis, tetapi juga menyangkut hak para pihak untuk menyampaikan klarifikasi serta menjaga reputasi masing-masing sebelum perkara memperoleh kepastian melalui proses hukum. STK














