Berita  

Dituding Rugikan Rp250 Juta, Ester-Nicky Siap Hadapi Proses Hukum dan Siapkan Langkah Balik

RADJA MEDIA, BOGOR — Polemik terkait DH Medika memasuki babak baru. dr. Ester Wulandari Fahmi dan Nicky Amelia Sanandri menyatakan tidak akan menghindari proses hukum terkait tudingan yang mengaitkan mereka dengan dugaan kerugian hingga Rp250 juta.

Keduanya justru menyatakan siap memberikan keterangan, dokumen, serta bukti-bukti yang dinilai dapat menjelaskan secara utuh persoalan yang dipersoalkan. Di sisi lain, Ester dan Nicky juga tengah menyiapkan langkah hukum untuk merespons tudingan yang mereka nilai perlu diuji berdasarkan fakta dan bukti.

Salah satu hal yang menjadi perhatian mereka adalah penyebutan DH Medika sebagai sebuah proyek yang disebut fiktif.

Nicky menegaskan, kegiatan yang dimaksud bukanlah proyek fiktif sebagaimana tudingan yang beredar. Menurut dia, DH Medika merupakan praktik dokter mandiri yang berada di wilayah Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Ia juga meluruskan informasi mengenai lokasi. Menurut Nicky, kegiatan tersebut berlangsung di Bogor, bukan Jakarta.

“DH Medika itu praktik dokter mandiri. Kegiatannya ada dan tempatnya juga ada di Tenjolaya, Bogor. Kalau kemudian disebut proyek fiktif, kami mempertanyakan dasar penyebutan itu,” ujar Nicky.

Ada Jejak Digital Grand Opening

Nicky juga menunjuk sejumlah dokumentasi digital yang menurutnya dapat menjadi bagian dari penjelasan mengenai keberadaan DH Medika.

Salah satunya adalah dokumentasi kegiatan yang diunggah melalui akun Instagram yang dikaitkan dengan DH. Dalam tangkapan layar yang diperoleh, terlihat kegiatan yang dihadiri sejumlah orang dengan keterangan “Grand opening”.

Dokumentasi tersebut juga memperlihatkan adanya kegiatan pembagian bantuan kepada masyarakat.

Bagi Ester dan Nicky, jejak digital tersebut setidaknya menunjukkan bahwa terdapat kegiatan nyata yang berkaitan dengan DH Medika dan bukan sekadar proyek di atas kertas.

Namun, mereka menegaskan seluruh dokumentasi tersebut tetap akan ditempatkan sebagai bagian dari bukti yang nantinya dapat diuji dalam proses hukum.

Praktik Disebut Masih Berjalan

Nicky bahkan mempertanyakan kembali dasar tudingan bahwa DH Medika merupakan proyek fiktif.

Menurut dia, praktik dokter tersebut hingga kini masih beroperasi dan pengelolaannya disebut masih berkaitan dengan pihak DH.

“Praktik dokter mandiri DH Medika sampai hari ini masih beroperasi. Bahkan dikelola oleh DH dan orang-orangnya sendiri. Kalau memang disebut proyek fiktif, lalu fiktifnya di mana?” kata Nicky.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu poin yang menurut Ester dan Nicky perlu diklarifikasi secara terbuka agar publik tidak menerima informasi hanya dari satu sisi.

Pertanyakan Dasar Angka Rp250 Juta

Selain persoalan keberadaan praktik dokter, mereka juga mempertanyakan angka kerugian sebesar Rp250 juta yang disebut dalam pemberitaan atau tudingan terkait perkara tersebut.

Ester dan Nicky menyebut terdapat dokumen rencana anggaran biaya atau RAB pembangunan/penyiapan praktik yang nilainya berada di kisaran Rp101 juta.

Karena itu, mereka mempertanyakan bagaimana angka Rp250 juta tersebut dihitung dan komponen apa saja yang digunakan sebagai dasar penghitungan kerugian.

Menurut mereka, persoalan tersebut seharusnya dapat dijelaskan melalui dokumen transaksi, RAB, komunikasi para pihak, bukti pembayaran maupun dokumen lain yang relevan.

“Kalau disebut kerugiannya Rp250 juta, tentu harus jelas dasar perhitungannya. Kami siap membuka dokumen dan menjelaskan bagian-bagian yang kami ketahui,” ujar Ester.

Siap Hadapi Proses Hukum

Ester menegaskan dirinya bersama Nicky tidak bermaksud menghindari proses hukum apabila persoalan tersebut memang telah masuk ke ranah penegakan hukum.

Sebaliknya, mereka menyatakan siap memberikan keterangan dan menghadirkan bukti yang dimiliki.

“Kami tidak akan menganggap ini persoalan biasa. Kami akan menyiapkan langkah-langkah hukum untuk menguji seluruh tuduhan tersebut berdasarkan bukti dan fakta yang sebenarnya,” tegas Ester.

Langkah tersebut, kata dia, bukan dimaksudkan untuk menghambat proses hukum, melainkan memastikan seluruh pihak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjelaskan posisi masing-masing.

Soroti Locus Delicti

Aspek lain yang akan menjadi perhatian Ester dan Nicky adalah locus delicti, atau tempat terjadinya peristiwa yang dipersoalkan.

Mereka menyebut kegiatan terkait DH Medika berlangsung di Tenjolaya, Bogor. Karena itu, lokasi kegiatan, keberadaan saksi, dokumen transaksi, komunikasi para pihak serta aktivitas praktik dokter menjadi bagian penting yang menurut mereka perlu diperiksa secara objektif.

“Biar semuanya terang. Di mana kegiatannya berlangsung, siapa yang terlibat, siapa yang hadir, dokumennya apa, transaksi yang terjadi seperti apa, semuanya bisa diperiksa,” kata Nicky.

Mereka juga membuka kemungkinan menempuh langkah hukum apabila dari hasil penelaahan ditemukan adanya dugaan pelanggaran hukum dalam proses pelaporan atau penyampaian tuduhan terhadap mereka.

Bukan Sekadar Bantahan

Ester dan Nicky menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan saling memberikan pernyataan di ruang publik.

Mereka ingin persoalan diuji melalui bukti.

Karena itu, selain menghadapi proses hukum yang berjalan, keduanya menyiapkan dokumentasi berupa komunikasi, dokumen pekerjaan, bukti transaksi, dokumentasi kegiatan, serta keterangan pihak-pihak yang dinilai mengetahui proses terbentuknya DH Medika.

Mereka juga mempertimbangkan langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dinilai telah merugikan nama baik maupun kepentingan profesional mereka, apabila setelah dilakukan kajian hukum ditemukan dasar yang cukup.

Meski demikian, Ester dan Nicky menegaskan seluruh langkah tersebut masih berada dalam tahap persiapan dan kajian.

Hingga berita ini diturunkan, tudingan mengenai kerugian Rp250 juta dan status DH Medika sebagai proyek fiktif masih merupakan bagian dari sengketa dan klaim para pihak. Kebenaran materiil atas tudingan tersebut tetap harus dibuktikan melalui proses hukum dan pemeriksaan bukti yang berwenang. UMS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *